UKRAINA menyatakan telah berhasil menghantam salah satu pusat komunikasi satelit terbesar milik Rusia untuk kedua kalinya dalam kurun waktu sepekan terakhir. Kyiv terus meningkatkan serangan pesawat nirawak (drone) jarak jauh guna menekan Kremlin agar mengakhiri perang yang telah berlangsung selama empat tahun.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengungkapkan Pusat Komunikasi Satelit Dubna yang terletak di utara Moskow atau sekitar 500 kilometer dari perbatasan Ukraina, digunakan Rusia untuk pengumpulan intelijen serta koordinasi angkatan bersenjata yang bertempur di Ukraina.
Meskipun Rusia belum mengonfirmasi secara resmi mengenai hantaman di pusat komunikasi tersebut, Gubernur Wilayah Moskow, Andrey Vorobyov, melaporkan sebuah drone telah menabrak “bangunan administratif” di kota itu tanpa adanya laporan korban luka maupun jiwa.
Kendati demikian, serangan drone gelombang ini tetap memakan korban di lokasi lain. Vorobyov mengonfirmasi melalui saluran Telegram miliknya bahwa seorang bayi berusia enam bulan tewas di Yegoryevsk, tenggara Moskow, setelah sebuah drone menabrak rumah warga dan menimbun para penghuninya di bawah reruntuhan. Di wilayah Tver, Rusia barat, seorang perempuan berusia 61 tahun juga dilaporkan tewas setelah rumah musim panasnya dihantam oleh serpihan drone musuh yang berhasil ditembak jatuh.
Wali Kota Moskow, Sergey Sobyanin, menyatakan pertahanan udara Rusia telah menembak jatuh lebih dari 60 drone yang mengarah ke ibu kota sejak Senin malam. Secara total, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah mengintersep atau menghancurkan sebanyak 419 drone.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengecam keras serangan Kyiv di wilayah Moskow tersebut. Kepada para jurnalis pada Selasa, Peskov menegaskan “warga sipil menderita, anak-anak sekarat.”
Di pihak lain, militer Ukraina menjelaskan bahwa serangan yang berhasil menembus Moskow dan St. Petersburg ini dimungkinkan karena adanya “koridor terbuka dalam sistem pertahanan udara musuh yang padat.” Operator militer Ukraina mengklaim secara sistematis telah menghancurkan radar-radar di wilayah perbatasan Bryansk Rusia yang berfungsi memantau ruang udara menuju ibu kota.
Ini merupakan klaim kedua Kyiv atas fasilitas Dubna setelah serangan serupa pada 22 Juni lalu. Pada insiden pertama, kantor berita negara Rusia, TASS, melaporkan adanya “serangan drone masif” namun menyatakan bahwa jaringan komunikasi, siaran televisi, dan keselamatan staf di fasilitas tersebut tidak terdampak. (CNN/Z-2)