PEMAIN Kolombia, Jaminton Campaz, telah menerima ancaman pembunuhan menyusul tersingkirnya timnya dari Piala Dunia. Federasi Sepak Bola Kolombia (FCF) secara resmi mengecam keras gelombang intimidasi dan ancaman pembunuhan yang ditujukan kepada penyerang sayap mereka.
Langkah Los Cafeteros terhenti secara dramatis di babak 16 besar setelah kalah dalam drama adu penalti melawan Swiss, Selasa lalu. Publik menyoroti tajam performa Campaz lantaran pemain asal klub Rosario Central tersebut melewatkan sebuah peluang emas di babak perpanjangan waktu setelah sepakannya melebar tipis di sisi gawang.
“Tidak ada satu pun atlet, maupun anggota keluarga terdekat mereka, yang boleh dijadikan sasaran intimidasi dan teror psikologis hanya karena mereka bertarung mewakili negara di arena olahraga,” tegas pernyataan resmi FCF, Jumat (10/7) waktu setempat.
Melalui akun Instagram pribadinya, Campaz mengunggah foto emosional saat dirinya meratapi kegagalan di lapangan hijau, dibarengi dengan pesan menyentuh yang meminta publik menjaga akal sehat.
“Sepak bola juga dibentuk oleh momen-momen getir. Kolombia-ku tercinta, tolong jangan pernah hilangkan rasa hormat di antara kita. Kita boleh kecewa dan frustrasi, namun tidak ada fanatisme yang bisa membenarkan kebencian atau memaksa seseorang hidup dalam ketakutan,” tulis Campaz.
FCF bergerak cepat dengan menyurati Kantor Kejaksaan Agung Kolombia untuk segera menggelar investigasi siber guna melacak identitas para pelaku di balik ancaman pembunuhan tersebut.
Ancaman tersebut membangkitkan kembali ingatan akan babak kelam dalam sejarah sepak bola Kolombia. Pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat, bek tengah andalan mereka, Andres Escobar, mencetak gol bunuh diri yang berujung pada kekalahan 2-1 dari tim tuan rumah sekaligus menyingkirkan Kolombia. Tragis, hanya berselang beberapa hari setelah mendarat di kampung halamannya di Medellin, Escobar tewas ditembak secara brutal di pelataran parkir akibat gelombang kebencian serupa.
(P-4)