MEMASUKI usia 40-an, banyak perempuan mulai merasakan perubahan signifikan pada tubuh mereka, mulai dari siklus menstruasi yang tidak teratur, gangguan tidur, hingga perubahan suasana hati yang drastis. Sayangnya, di tengah kesibukan menjalankan peran sebagai ibu, istri, maupun profesional, perubahan-perubahan ini sering kali terabaikan.
Guna meningkatkan kesadaran akan pentingnya fase transisi ini, Primaya Hospital menyelenggarakan seminar bertajuk “Jangan Malu, Saatnya Bicara Perimenopause”. Berkolaborasi dengan Yoona Women, Martha Tilaar SPA, dan Blibli, acara ini menghadirkan para pakar untuk mengupas tuntas perimenopause dari berbagai sudut pandang medis dan gaya hidup.
Memahami Fase Perimenopause
Perimenopause merupakan masa transisi alami menuju menopause yang umumnya terjadi pada rentang usia 40 hingga 50 tahun. Dr. dr. Martina Hutabarat, Sp.OG, menjelaskan bahwa fase ini ditandai dengan fluktuasi hormon estrogen dan progesteron yang berdampak luas pada kesehatan fisik dan mental.
MI/HO—(Dari kiri ke kanan)_ Dr. Leonita Ariesti Putri, Sp.KJ., M.Sc.; dr. Gustiawaty Army, Sp..; dan Lisa Widodo, COO & Co-Founder Blibli, menjadi pembicara di seminar bertajuk “Jangan Malu, Saatnya Bicara Perimenopause”.
| Kategori | Rata-rata Usia / Persentase |
|---|---|
| Mulai Memasuki Perimenopause | 47,5 Tahun |
| Memasuki Menopause | 51,3 Tahun |
| Angka Harapan Hidup Perempuan | 85 Tahun |
| Gangguan Dasar Panggul pada Menopause | 72,9% |
Pendekatan Multidisiplin untuk Kualitas Hidup
CEO Primaya Hospital Group, Leona A. Karnali, CFA, FRM, menegaskan bahwa perempuan tidak perlu melakukan over treatment karena khawatir berlebihan, namun penting untuk mendapatkan pendampingan medis yang tepat. “Perimenopause adalah fase alami, bukan berarti harus dijalani dengan rasa tidak nyaman,” ujarnya.
Dari sisi medis spesialis, berbagai solusi ditawarkan untuk mengelola gejala:
- Nutrisi: Dr. dr. Luciana B. Sutanto, Sp.GK., menekankan pola makan seimbang untuk menjaga massa otot dan metabolisme.
- Kesehatan Kulit: Dr. dr. Komang Ardi Wahyuningsih, Sp.KKLP., menjelaskan bahwa 30% kolagen kulit bisa hilang dalam lima tahun pertama menopause, sehingga diperlukan perawatan kulit dan rambut yang tepat.
- Kesehatan Mental: dr. Leonita Ariesti Putri, Sp.KJ., menyarankan metode STOP (Stop, Tarik napas, Observasi, Pilih respons) untuk mengelola stres akibat perubahan hormon.
- Fisik & Rehabilitasi: dr. Gustiawaty Army, Sp.KFR, mengingatkan pentingnya aktivitas fisik rutin untuk menjaga kekuatan otot dan tulang.
- Akupuntur: dr. Feliani, Sp.Ak, menyebutkan akupuntur medis dapat membantu menyeimbangkan vitalitas tubuh.
Menghapus Tabu dan Tetap Produktif
Susanna Angraini, CEO & Co-Founder Yoona Women, berbagi pengalaman pribadinya mengenai gejala seperti leaky bladder yang sering dianggap tabu untuk dibicarakan. Ia mendorong perempuan untuk lebih terbuka agar tidak merasa sendirian dalam menghadapi perubahan tubuh.
Senada dengan hal tersebut, Wulan Maharani Tilaar dari Martha Tilaar SPA mengajak perempuan melakukan perawatan holistik agar tetap bahagia. Sebagai penutup, Lisa Widodo, COO & Co-Founder Blibli, menekankan bahwa perimenopause bukanlah akhir dari produktivitas.
“Dengan tubuh yang sehat dan dukungan lingkungan kerja yang memahami proses biologis ini, perempuan tetap dapat berkarya dan memimpin di setiap fase kehidupannya,” pungkas Lisa.
Melalui inisiatif ini, Primaya Hospital berharap perempuan Indonesia lebih berani mengenali perubahan tubuhnya sejak dini demi masa tua yang sehat, aktif, dan tetap percaya diri. (Z-1)