ANGKA kematian di Prancis dilaporkan melonjak hampir 30% selama pekan terpanas dari gelombang panas ekstrem (heatwave) yang melanda sebagian besar wilayah Eropa. Otoritas kesehatan setempat bahkan memperkirakan jumlah korban jiwa masih akan terus bertambah.
Lembaga Kesehatan Publik Prancis (Public Health France) melaporkan adanya peningkatan kematian sebesar 29,1%, yang setara dengan 2.025 kematian tambahan dibandingkan dengan minggu sebelumnya. Pihak otoritas menegaskan angka tersebut kemungkinan besar masih di bawah total kerugian yang sebenarnya.
“Terjadi peningkatan sebesar 29,1%, yang mencerminkan 2.025 kematian tambahan dibandingkan dengan minggu sebelumnya,” ungkap perwakilan Public Health France pada Jumat waktu setempat. Mereka juga menambahkan bahwa “angka kematian akan meningkat lebih jauh.”
Data yang baru diperbarui ini mencakup periode 22 hingga 28 Juni, di mana Prancis mencatat hari-hari terpanas sepanjang sejarah, dengan rekor suhu tertinggi waktu siang dan malam hari pecah di berbagai kota. Sejauh ini, otoritas telah menghitung 8,973 total kematian pada pekan tersebut, naik signifikan dari 6.948 kematian pada pekan sebelumnya. Lonjakan kasus ini terkonsentrasi hampir seluruhnya pada kelompok usia 45 tahun ke atas, dengan lansia di atas 65 tahun sebagai kelompok yang paling terdampak.
Krisis ini tidak hanya terjadi di Prancis. Pemerintah Belgia melaporkan sekitar 1.200 kematian tambahan akibat suhu ekstrem, sementara pemerintah Belanda mencatat sekitar 480 kematian tambahan yang mayoritas korbannya adalah warga lansia.
Direktur Jenderal sistem rumah sakit umum Paris, Nicolas Revel, memproyeksikan total korban jiwa akibat gelombang panas Juni ini kemungkinan akan lebih tinggi daripada episode panas ekstrem tahun lalu yang menewaskan 5.700 orang.
Dampak lingkungan dari cuaca ekstrem ini pun dirasakan secara luas di Eropa. Di Italia, kekeringan parah menyebabkan Sungai Po menyusut drastis hingga memicu status darurat di wilayah Veneto. Sementara di Swiss, peningkatan suhu memicu pencairan salju berskala masif di Gletser Rhône. Para pakar klimatologi dari World Weather Attribution menegaskan bahwa suhu ekstrem yang memecahkan rekor di berbagai negara Eropa ini hampir tidak mungkin terjadi tanpa adanya faktor perubahan iklim yang dipicu oleh polusi karbon. (The Guardian/Z-2)